Santri Pengelana

Berjalan tanpa henti

NASIB CANGKUL AYAHKU

Dari sudut-sudut marjinal

Kemanusiaan akan terlahir

Hadir dari bawah status sosial

Bangkit bejuang dan berpacu

Ditengah kehidupan masyarakat yang plural

Dengan segala aktivitas persaingan sosial

Untaian peluh yang membasahi

Legamnya kulit Ibu Ayahku

Dengan keakuanku yang membeku

Kurengguk dalam cawan

Tanpa aada rasa penyesalan

Dengan egoku yang kupaksa ayah

Tuk menggantungkan cangkulnya

Diberanda dibelakang rumah

Kerbau milik ayah harus rela

Kehilangan tempat ‘tuk bercengkrama

Menikmati belaian mentari pagi

Si Putan dan jaem adik manisku

Hanya bengong tanpa ia harus mengerti

Karena mereka harus kehilangan tempat bermain

Karena memang jerami-jerami itu

Sudah bukan milik kita lagi

Ketika musim panen tiba

Sudah tak kulihat lagi irama ritual dirumahyku

Ibuku, Bapakku…………….

Hanya bhisa meneraewang dalam tatap pandang

Dengan penuh impian, penuh harapan

Pada aku anaknya yang sombong

Seiring dengan keberangkatanku

Yang telah menghabiskan

Tetesan air sungai dari danau di mata orang tuaku

Aku masih saja di batas anganku

Disudut kehidupan……………………..

Dipinggiran masyarakat plural

Ditepi gelisahku yang menyatu

Aku terpaku………………………..

Haruskah aku terus memkas orang tuaku

Tuk meneteskan air matanya yang telah kering…..?

Ayah Ibu …………………………………………….

Dan kau mawar kecil manisku

Maafkanlah aku

January 30, 2009 - Posted by | puisi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: